Daerah, Pelitarakyat.id — Mustasyar PBNU yang juga menjabat sebagai Rais Awwal Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqooh AlMu’taborah An-Nahdliyah, Syekh Sayyid Abdur Rahim Assegaf Puang Makka memaparkan internalisasi nilai-nilai tasawuf dalam pencegahan dini konflik sosial berdimensi keagamaan.

Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi narasumber di Lokakarya yang digelar Yayasan Baburrahman Galung Beru Bulukumba.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) Kementerian Agama Bulukumba, diikuti puluhan peserta perwakilan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pengamal thariqah di Bulukumba.

Saat memaparkan tausiyahnya, Puang Makka yang didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Bulukumba dan Ketua Tanfidziyah PCNU Bulukumba, menuturkan bahwa esensi ajaran Islam adalah moral. Moral hamba terhadap Tuhannya, antara seseorang dengan dirinya sendiri, antara dia dengan lingkungannya.

“Manusia yang kehilangan visi keilahian, tentu sangat berdampak terhadap jiwanya. Iya akan merasa stres dan gelisah karena tidak memiliki pegangan hidup,” papar Puang Makka.

Menurutnya, spiritual menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

“Saya kira melalui spiritual itulah, kita mendapatkan kedamaian, pencerahan, tidak berbuat onar, menciptakan ketentraman dalam beragama, berbangsa dan bernegara, maka dengan sendirinya konflik tidak terjadi,” sambungnya.

Lebih lanjut Puang Makka menambahkan, beragama harus dengan kerendahan hati, tawadhu, sejuk menyejukkan.

“Jangan mudah mengklaim keyakinan orang, ini salah dan ini paling benar. Belum tentu kita juga benar dimata tuhan. Mari beragama dengan baik, berguru dengan benar, insya Allah kedamaian pasti tercipta,” lanjutnya.

Puang Makka menutup tausiyahnya, demikian itulah perlunya tasawuf. Yaitu supaya bisa mendidik kita agar taat kepada sang Khaliq. Supaya juga kita bisa kenal kepada yang menciptakan kita.

“Kalau sudah kenal siapa diri kita dan tuhan kita, tentunya akan malu melakukan maksiat dan menjadi insan peredam konflik ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *