Penulis : Muhammad Rizal

SULENGKA.ID, HISTORI — Tragedi Karbala merupakan salah saru peristiwa bersejarah dalam kalender Islam. Betapa tidak, pada 10 Muharam yang di kenal dengan Hari Asyura, Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para pengikut setianya dibantai oleh pasukan penguasa Dinasti Umayyah, yakni Yazid bin Muawiyah di di Karbala, Irak, pada tahun 680 M (61 Hijriyah).

Imam Husain bin Ali adalah simbol moralitas, keteguhan prinsip, dan perlawanan terhadap kezaliman. Dalam sejarah, diceritakan bahwa Imam Husain menolak memberikan baiat kepada Yazid, karena menganggap kekuasaannya tidak sah, lalim, dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Akibat dari penolakan itu ternyata berbuntut panjang. Imam Husain bersama sekitar 72 orang keluarganya, termasuk anak-anak dan perempuan, di hadang dan di kepung di padang Karbala dalam kondisi kelaparan dan kehausan. Pada hari ke-10 Muharram, seluruh laki-laki dewasa, termasuk Husain sendiri, di bunuh dengan kejam. Tubuh mereka di mutilasi, bahkan kepala Imam Husain dipenggal dan di bawa ke istana.

Peristiwa itu tidak hanya mengejutkan dunia Islam pada zamannya, tetapi juga meninggalkan luka sejarah yang terus di kenang dan dijadikan pelajaran bagi generasi setelahnya.

Hari Duka Umat Islam

Di kalangan Syiah, Asyura adalah hari duka terbesar sepanjang tahun. Di berbagai negara seperti Iran, Irak, Pakistan, India, hingga wilayah-wilayah di Indonesia, Asyura di peringati dengan berbagai tradisi keagamaan seperti majelis taklim, pembacaan kisah Karbala, zikir, doa bersama, hingga prosesi pawai duka. Bahkan sebagian melakukan bentuk ekspresi ekstrem seperti memukul dada sebagai lambang solidaritas terhadap penderitaan Ahlul Bait (keluarga Nabi).

Peringatan hari Asyura tak hanya di peringati oleh kalangan Syiah saja. Banyak umat Islam dari berbagai mazhab juga mengakui keagungan pengorbanan Imam Husain dan menjadikan Asyura sebagai momen refleksi spiritual dan sosial.

Di Indonesia sendiri, Asyura kadang di peringati dengan cara yang lebih sederhana seperti pembacaan sejarah Karbala, pengajian, hingga kegiatan sosial seperti menyantuni anak yatim, sebagaimana di anjurkan dalam beberapa tradisi Sunni.

Bukan Sekadar Duka, Tapi Perlawanan yang Abadi

Tragedi Karbala bukan hanya di kenang sebagai peristiwa menyedihkan. Justru, dari sanalah lahir semangat perlawanan terhadap ketidakadilan, semangat untuk berdiri tegak meski sendirian, dan pengorbanan dalam membela kebenaran (haq).

Imam Husain tidak memilih jalan kompromi. Ia tahu bahwa melawan berarti menuju kematian, tetapi ia memilihnya karena yakin bahwa diam terhadap kezaliman adalah bentuk kematian yang lebih hina.

Bahkan tokoh-tokoh besar seperti Mahatma Gandhi pernah mengakui bahwa ia terinspirasi oleh pengorbanan Imam Husain dalam menentang penjajahan Inggris di India. Peristiwa Karbala menembus batas agama dan wilayah, menjadi kisah perjuangan universal.

Di era modern, semangat Asyura semakin relevan. Dunia yang masih di penuhi ketimpangan, ketidakadilan, dan kekuasaan yang menindas menjadikan kisah Imam Husain sebagai cermin nurani umat. Ia tidak hanya menyuarakan perlawanan terhadap penguasa tiran di masa lalu. Tetapi juga mengajarkan pentingnya keberanian moral dan integritas di masa kini.

Asyura mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu soal kemenangan fisik. Tetapi tentang tegaknya nilai, kejujuran, dan cinta pada kebenaran, meskipun harus di bayar dengan nyawa.

Hari Asyura, 10 Muharram, bukan hanya tentang mengenang duka. Ia adalah simbol kekuatan spiritual, keteguhan hati, dan pengorbanan yang tak lekang oleh zaman. Imam Husain dan tragedi Karbala telah mengajarkan pada dunia bahwa ada nilai-nilai yang harus di perjuangkan meskipun dunia berpaling.

Dalam dunia yang kerap melupakan moralitas, semangat Karbala terus hidup mengajarkan bahwa diam bukanlah pilihan saat kebenaran di injak-injak.