Kerajaan Alengka sering dieja dengan nama Alengkadiraja. Kerajaan ini identik dengan Rahvana, tokoh antagonis yang dikelilingi wanita wanita cantik dalam pewayangan Ramayana.
Rahvana adalah seorang manusia paling sakti di Jagat Raya. Dan para Dewa pun menjanjikan, tidak ada seorang manusia yang bisa mengalahkannya.
Dengan kesaktian dan kemampuan itu, justru ia merasa hebat, mengumbar hawa nafsu, mengumbar angkara murka.
Rahvana yang terpikat dengan kecantikan Dewi Shinta berusaha merebut Dewi Sintha dari tangan Sri Rama, suaminya. Padahal sebenarnya Rahvana telah beristri seorang bidadari yang cantik jelita, yakni Dewi Tari.
Namun nafsu telah membutakan mata hatinya, hanya karena Rahvana percaya Dewi Shinta adalah titisan Dewi Sri Widowati.
Rahvana mengutus Kala Maruta untuk menggoda Dewi Shinta, Kala Maruta menjelma menjadi “Kidang Kencana” untuk menggoda Dewi Shinta di Hutan agar lepas dari perlindungan Lesmana. Kala Maruta yang menjelma Kidang Kencana berhasil menarik perhatian Dewi Sintha yang lepas dari pengawasan Lesmana, akhirnya berhasil di culik Rahvana.
Sri Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rahvana ke Kerajaan Alengka. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sugriwa Raja Kishkindha. Sugriwa yang ingin membalas jasa bersekutu dengan Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu Hanoman (Wanara putih) dan ribuan pengikutnya, mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.
Rahvana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya untuk menggempur Sri Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) Rahvana diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Sri Rama.
Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah brahmasta yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria. Alengka akhirnya berhasil di luluntakan dan dibakar Hanoman, sedang Dewi Sintha berhasil direbut kembali oleh Sri Rama ke Kerajaan Ayodhya.
Lantas apa yang bisa kita petik dari kisah Hancurnya kerajaan Alengka?
Penulis: Muhammad Eris
Editor: Muhammad Rizal
