Oleh Irham Al-Hurr, pemuda desa pencinta ladang dan langit, menulis untuk menyambut Asyura bukan hanya dengan air mata.
SASTRA, SULENGKA.ID – Di pagi yang sunyi, saat embun masih setia menggantung di ujung daun, aku duduk di pinggir kebun. Di sinilah tempat aku menanam kopi, pisang, dan bunga-bunga kehidupan. Dari ladang sederhana ini, aku mencoba menulis tentang satu peristiwa agung yang selalu hidup dalam jiwa-jiwa pencari kebenaran—perang Karbala.
Peristiwa Karbala
Karbala bukan sekadar nama tempat di tanah Nainawa. Ia adalah medan perjuangan batin yang tak pernah usai.
Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, di sana terjadi sebuah tragedi besar. Bukan sekadar pertempuran antara dua pasukan, melainkan pertarungan antara dua jalan hidup: jalan kezaliman dan jalan kebenaran.
Di tengah padang pasir yang panas dan kering, berdirilah Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, bersama keluarga dan sahabat-sahabat setianya. Mereka tahu akan gugur. Tapi mereka tetap memilih berdiri, sebab hidup dalam kehinaan lebih pahit daripada mati dalam kemuliaan.
| Karbala adalah tragedi agung, tapi lebih dari itu, ia adalah pelajaran. Tentang keteguhan, tentang keimanan, tentang keberanian untuk tidak tunduk pada kekuasaan yang menindas.|
Imam Husain tidak mencari kemenangan dunia. Ia ingin menjaga kemurnian ajaran kakeknya dari tangan penguasa zalim bernama Yazid bin Muawiyah.
Bayangkan, sekelompok kecil orang—anak-anak, wanita, dan hanya beberapa puluh laki-laki—dikepung oleh ribuan pasukan bersenjata lengkap. Tapi mereka tak goyah. Bahkan saat anak-anak menangis karena haus, mereka tetap teguh menjaga prinsip. Imam Husain mengajarkan bahwa kebenaran lebih berharga daripada hidup itu sendiri.
Sebagai seorang petani yang setiap hari menanam dan menyiram, aku sering membayangkan: jika aku hidup di masa itu, di pihak manakah aku berdiri? Apakah aku akan berdiri bersama Husain, atau justru memilih diam seperti banyak orang Kufah yang membiarkan kebenaran dibantai?
Karena itulah para ulama berkata,
“Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala.”
Artinya, pertarungan antara yang hak dan batil terus berlangsung, bukan hanya di padang pasir, tetapi di dalam hati dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita selalu berada di persimpangan: memilih untuk jujur atau curang, membela yang lemah atau diam, berdiri di sisi kebenaran atau bersembunyi di balik kenyamanan.
Al-Hurr bin Yazid Ar-Riyahi
Kisah Karbala juga memuat sosok yang amat menyentuh—Al-Hurr bin Yazid Ar-Riyahi. Ia adalah panglima pasukan yang mula-mula diperintahkan menghadang Imam Husain. Namun menjelang Asyura, hatinya gelisah. Ia tahu, yang ia hadapi bukan pemberontak, melainkan cucu Nabi. Dalam gundah, ia memilih langkah paling berat: meninggalkan barisan musuh dan menuju kemah Imam Husain.
Dengan air mata yang jatuh di pasir, ia berkata, “Wahai Imam, adakah pintu tobat masih terbuka bagiku?”
Imam Husain tidak hanya membuka pintu itu, tapi memeluknya dengan kasih. Al-Hurr pun gugur sebagai salah satu syuhada agung. Namanya harum bukan karena ia benar sejak awal, melainkan karena ia berani berbalik ketika tahu ia salah.
Dari Al-Hurr, aku belajar bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memilih kebenaran. Selama hati masih hidup, kita masih bisa kembali dan berdiri di jalan yang benar.
|Karbala mengajarkan: kesadaran yang tulus lebih mulia daripada kesalahan yang dibiarkan.|
Semangat Karbala: Bertani Tanpa Pupuk Kimia
Kini, di bulan Muharram 1447 Hijriyah ini, aku tak sekadar mengenang Karbala. Aku menjadikannya cermin untuk melihat diriku sendiri. Di ladang yang kuolah dengan cinta, di tanah yang kupijak setiap hari, aku merasa Karbala hadir. Saat aku menolak pupuk kimia yang merusak tanah meski hasilnya lebih banyak—itu pilihanku berdiri di sisi Husain. Saat aku berkata jujur di tengah godaan kebohongan—itulah Asyura dalam hatiku.
Setiap orang punya Karbala masing-masing. Setiap hari kita diuji, seperti Husain diuji. Maka marilah kita jadikan 10 Muharram bukan sekadar hari tangis, tapi hari kebangkitan. Hari ketika semangat Karbala tumbuh kembali—bukan hanya dalam majelis-majelis, tapi juga dalam tindakan dan pilihan hidup kita.
Bagi aku yang mencintai ladang dan hujan, semangat Karbala adalah benih yang kutanam dalam hati. Setiap hari, aku sirami dengan doa dan harapan. Semoga aku kelak termasuk orang-orang yang mampu berdiri, meski sendiri, di sisi kebenaran.
| Untuk sahabatku,
Adakah hari ini semangat Karbala menyala di jiwamu? |
Pesan penulis: Irham Al-Hurr, Pemuda desa, yang bertani di bumi dan bermimpi menanam kebenaran di langit. ***


Komentar 2
Sangat dalam dan penuh makna ustadz, terimakasih tulisannya sangat memotivasi untuk lebih bersemangat mengejar sebuah kebenaran.👍👍top
Terima kasih 🙏