SULENGKA.ID, OPINI — Kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia hari-hari ini semakin keras dan nyata-nyata jauh dari peri kehidupan yang damai dan sejahtera. Sistem pemerintahan yang otoritarian orde baru kembali lagi dengan berbagai kekerasan dan manifestasinya.
Walhasil semakin jauh dari 4 pilar berbangsa dan bernegara, yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan cara berpikir masyarakat dan pemerintah, UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara yang setiap kali dilanggar, NKRI sebagai tekad mewujudkan negara kesatuan, dan Bhinneka Tunggal Ika hanya berhenti sebagai simbol negara bangsa.
Negara sejahtera amanat preambulle konstitusi sebagai salah satu tujuan bernegara semakin jauh dari kenyataan.
Kekerasan itu bukan sekadar cerita, karena dalam catatan Lontara Bilang ini kita mendengar dan membaca ada pembunuhan antara aparat polisi dan TNI.
Kedua alat negara ini di berbagai provinsi berubah menjadi centeng perkara sengketa tanah, menjadi tukang palak peredaran BBM liar, penyalahgunaan narkoba dan judi, mulai dari judi on line sampai judi sabung ayam.
Polisi membunuh polisi di rumah polisi di Jakarta, Polwan membakar suaminya yang juga polisi di Mojokerto, polisi membunuh siswa SMK di Semarang, 3 orang polisi di tembak mati oleh TNI di Lampung dalam perkara sabung ayam, polisi minta uang untuk membebaskan pengedar narkoba di Bone, dan polisi membunuh sopir di Palangkaraya.
Aparat bersenjata itu melakukan pemerasan terhadap rakyat kecil yang secara ilegal kerjakan tambang pasir galian C.
Menjadi pelindung konflik lahan dan di area perkebunan rakyat, tanah wilayat dan tanah adat, serta perkebunan kelapa sawit, suatu bidang yang bukan tupoksinya.
Teror Kepala Babi
Kini, terbetik berita bahwa 3 hari yang lalu 19/3/2025, jurnalis Majalah TEMPO Fransisca Christy Rosna, dari ruang siniar Bocor Halus menerima kiriman paket kepala babi, yang tidak bisa lain di terjemahkan sebagai teror dan intimidasi. Agar ruang siniar kritis ini menghentikan programnya, yang memang di tunggu setiap minggu mayarakat lewat tayangan video.
Yang menjadi unik ajaib mengundang tafsir. Karena kiriman kepala babi itu berkesesuaian waktunya dengan desakan TNI ke DPR RI untuk membahas RUU TNI No. 24 Tahun 2004. Panja RUU yang kemudian di sahkan sebagai UU di Rapat Paripurna DPR RI mendapatkan protes dari kampus, intelektual dan aktifis anti kekerasan. Aku tidak hadir dalam pengambilan keputusan itu. Minimal aku tidak punya beban moral untuk segala impak UU ini di masa depan.
Negara memang sedang mempertunjukkan “kekuasaan”, dan bukan lagi negara hukum sebagai mandatori di dirikannya. Bahkan di lansir berita menjelang Idul Fitri, hari besar umat Islam mengakhiri ibadah puasa 1 bulan. Polisi akan menyiapkan penembak jitu di sejumlah titik jalur mudik.
Pihak keamanan tidak mampu mengatasi keamanan sipil dengan cara persuasif, tapi langsung akan lakukan penembakan di tempat. Ini persis akan mengulang petrus, penembak misterius di era Orde Baru. Tiba-tiba mayat bergelimpangan di trotoar. Tak ada proses pradilan.
Kekerasan memang menjadi menu pemberitaan di negeri yang konon aman dan makmur. Pulau melati pujaan bangsa, nyiur melambai di tanah yang sangat subur. Namun, ini cuma rayuan pulau kelapa di masa lalu. Hikayat sebuah Negeri, di mana kaum Ksatria berlomba menjadi kaum Sudra.
