Oleh: Suriadi
Belakangan saya semakin sering merasa dakwah kita terlalu ringan di kaki. Mirip kapas yang mudah melayang ke mana-mana, jarang benar-benar menapak pada kehidupan orang banyak.
Di media sosial, agama hadir setiap hari melalui potongan ceramah dan kalimat motivasi dengan desain yang rapi. Sementara di ruang publik pengajian dipenuhi tepuk tangan. Penceramah bak selebritas. Diundang, dipotret, divideo, lalu disajikan ke algoritma.
Tidak ada yang salah dengan itu semua. Dunia memang berubah. Cara orang mendengar agama juga berubah. Hanya saja, kalau dirasa-rasa, dakwah yang terlalu lama hidup dan dipersolek di depan kamera, perlahan-lahan bisa lupa mencium bau kehidupan yang nyata.
Ada beberapa yang menjadi titik tolaknya. Umpamanya, kita bisa bicara panjang-lebar tentang hijrah, tapi tak cukup gaduh ketika pasar rakyat mulai megap-megap dihantam toko besar dan permainan modal. Kita sangat fasih mengingatkan anak muda soal pergaulan, tetapi di mana suara itu ketika sungai diracuni limbah dan kampung-kampung kehilangan air bersih. Dari situlah saya mulai merasa ada yang bergeser dari cara kita memahami dakwah ini, dan agaknya perlu dicakapkan ulang, segera.
Kita coba kembali pada masa Nabi Muhammad. Dulu, darinya dakwah lahir melalui pergulatan dengan kenyataan hidup. Nabi tidak — bahkan enggan berada di menara gading. Dakwah Nabi ada di pasar yang curang, orang miskin yang diperas, budak yang dihina, perempuan yang diperlakukan semena-mena, dan sumber daya yang tidak merata.
Dari sejarah ini dipahami, bahwa dakwah Nabi tidak semata-mata datang hanya untuk menyampaikan nasihat langit. Ada sisi lain yang mungkin, atau bahkan lebih penting, yaitu bagaimana dakwah bisa bekerja mengubah keadaan di bumi. Model itulah yang membuat Agama di masa Nabi tidak seperti sekarang, yang kebanyakan hanya menjadi tontonan moral ketimbang tenaga sosial.
Maka aneh rasanya, kenapa agama bisa sering terlambat hadir dalam problem sosial yang paling dekat dengan masyarakat. Sementara kalau dilihat-lihat, hari ini agama masih begitu ramai dibicarakan. Entah apa sebenarnya yang mereka bicarakan itu, sehingga agama telat, dan sebagian merasa ia kurang bekerja dilevel kesusahan umat.
Ambil contoh pasar rakyat. Bertahun-tahun kita mendengar bagaimana pedagang kecil makin sulit bernapas, kalah modal, kalah distribusi, kalah fasilitas. Sebagian yang bertahan hanya karena tidak punya pilihan lain. Yang menyebalkan adalah, pembicaraan keagamaan kita tentang ekonomi selalu berhenti di soal halal-haramnya transaksi atau anjuran berdagang jujur.
Kita seakan ogah menyoal sesuatu yang lebih serius. Misal, kenapa negara begitu mudah memberi ruang pada pemodal besar, sementara orang-orang kecil dipaksa bertahan dengan tenaga seadanya?.
Dakwah semestinya punya keberanian masuk ke wilayah itu. Karena keadilan sosial, bukanlah tema asing dalam agama. Ia adalah inti.
Pun soal lingkungan. Kenapa kerusakan alam jarang benar-benar diperlakukan sebagai krisis moral dalam ceramah-ceramah kita. Hutan dibabat, sungai rusak, udara memburuk, manusia dan hewan kehilangan hak tinggalnya. Tapi masih saja, isu lingkungan sering kalah penting dibanding perdebatan simbolik yang bahkan tidak menyentuh hidup orang banyak.
Padahal, ditilik dari sisi manapun, kerusakan ekologis selalu punya korban yang konkret. Petani kehilangan sumber air. Anak-anak tumbuh dengan udara buruk. Kampung perlahan tenggelam karena rakusnya pembangunan. Bahkan dengan sadar kita menyaksikan semacam ketidaksehatan logika: memburu 1 hewan di penjara, sementara merusak lingkungan yang membuat hewan dalam skala besar bisa punah, sah-sah saja karena aturan. Padahal yang sah belum tentu itu layak.
Namun tetap saja, dari pelbagai kenyataan itu, persoalan lingkungan tetap tidak cukup menarik untuk dijadikan konten viral. Mungkin karena ia tidak bisa memancing amarah dengan cepat. Tidak menghasilkan sorak-sorai. Dan kita akan sulit disimpati sebagai pendakwah hebat kalau membicarakannya dimimbar publik dan digital.
Nampaklah dakwah semacam mengalami disorientasi. Kehilangan makna dan arah. Kini, saat mendengar dakwah, yang pertama kali terbersit dibenak adalah keramaian dan lampu terang benderang, lebih mirip sebagai pertunjukan. Masyarakat dianggap lebih membutuhkan hiburan religius.
Memang benar dakwah bisa menghibur jamaah selama sejam atau dua jam. Tapi tentu bukan rutinitas ini yang kita inginkan terus-menerus terjadi. Hanya mirip mengobati tanpa benar-benar menghilangkan penyebabnya.
Nabi pernah memerintahkan untuk memindahkan ranting yang mengganggu perjalanan seorang mukmin. Memahami perintah ini ada levelnya, yang paling atas adalah kenapa harus menunggu ranting jatuh, kalau sebenarnya kita bisa merapikan pohon dan mengolah tata kota. Maka logikanya jelas, mau dibawa bekerja dilevel mana agama ini oleh pemeluknya: pindahkan ranting, rapikan pohon ataukah membuat tata kota yang lebih baik. Utamanya oleh yang mereka punya otoritas menyampaikan mengenai agama ini.
Merujuk pada kompleksitas masalah umat kekinian, sangat dibutuhkan sekali agama yang bisa ikut memikirkan harga pangan, pendidikan yang sehat, ruang hidup yang rusak, juga ketimpangan yang nyata. Kita sebagai umat yang beragama mustinya merasa terpanggil olehnya.
Maka, kalaulah agama di masa ini masih saja sibuk memoles kesalehan di permukaan sambil membiarkan kehidupan sosial berjalan tanpa arah etik. Bolehlah ini dikata sebagai menyalahi spirit agama yang dibawa Nabi. Karena pada masa Nabi, dakwah tidak ada jarak dengan tanah. Tidak terlalu sibuk menjadi spektakel. Tidak terlalu terobsesi menjadi viral.
Sangat disayangkan sekali, kalau-kalau agama ini terlalu pelan saat berhadapan dengan penderitaan manusia. Karena nanti, boleh jadi kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan, kita ditanya: “Bukankah kau tau agama ini Aku turunkan sebagai Rahmatan lil ‘alamin?. Lalu kenapa tidak kau buat agama ini bekerja mencipta kesejahteraan dibumi?
Kira-kira apa jawaban kita?
*) Suriadi, Mahasiswa Doktoral Universitas KH Abdul Chalim, Mojokerto
