Paradoks ini bukan terjadi karena kekurangan pengetahuan, melainkan akibat kegagalan dalam memaknai pengetahuan itu sendiri.
Hari ini, gelar akademik dan akses terhadap ilmu tidak otomatis melahirkan kejernihan berpikir atau keberanian moral. Intelektual lebih banyak tampil sebagai simbol prestise daripada sebagai agen perubahan.
Kita sibuk mengutip, tetapi enggan mempertanyakan; mahir menguraikan, namun lupa mendalami makna. Inilah luka sunyi dalam gelapnya dunia pemikiran kita ketika warisan intelektual yang semestinya membumi dan membebaskan justru di matikan oleh tangan-tangan yang mengaku mewarisinya.
Pertanyaannya bukan hanya “mengapa?”, tetapi “untuk siapa?” dan “demi apa pengetahuan itu dirawat?”.
Jika intelektualitas hanya berujung pada menara gading dan kehilangan keberpihakan pada realitas sosial, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan kematian akar intelektual—dan yang menyebabkannya adalah mereka yang seharusnya merawat dan menjaganya agar tetap hidup dan mekar.
Realitas Sosial
Di masa lalu, tokoh-tokoh seperti Soedjatmoko, Tan Malaka, Abdurrahman Wahid, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Dahlan, Nurcholish Madjid, hingga Franz Magnis-Suseno hadir sebagai intelektual yang lahir dari pergulatan batin dengan realitas sosial.
Mereka tidak sekadar menguasai teori, tetapi menyelam dalam denyut kehidupan rakyat, memahami luka kolektif, dan merumuskannya menjadi kesadaran kritis. Kini, banyak intelektual justru menjauh dari ruang sosial—tenggelam dalam seminar, terjebak di ruang kopi—namun kehilangan kemampuan untuk merasakan.
Pengasingan yang pernah dilakukan oleh Soren Kierkegaard, Imam Al-Ghazali sebagai Hujjatul Islam, Tan Malaka hingga Pramoedya bukanlah tanpa sebab. Banyak dari mereka terjebak dalam sistem akademik yang mengukur keberhasilan dari kuantitas publikasi, bukan kualitas pemikiran.
Maka yang lahir adalah intelektual teknokrat: cakap mengolah data, lihai membangun solidaritas, namun kering makna.
Ke depan, kami—generasi muda—berharap pengetahuan tidak hanya menjadi domain akumulasi informasi, tetapi juga ruang perenungan etis di tengah kompleksitas problem sosial. Sebab, ketika mahasiswa dan pemuda memproduksi pengetahuan tanpa kompas moral, yang lahir adalah ilmu tanpa orientasi.
Di Kabupaten Bulukumba, akar intelektual lahir dari pergulatan sejarah, budaya, dan nilai-nilai lokal. Di sini, ilmu senantiasa bersandar pada perjuangan kelas sosial yang di ridai Tuhan. Kita bukanlah pemuda dengan narasi dominan yang siap dijadikan intelek sewaan. (*)
Penulis: Muhammad Asdar (Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Kabupaten Bulukumba, Sulsel )