Oleh: H. Usman Abdul Rasyid, Lc. M.Pd
(Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Alfatihah Bulukumba).

Rabu tanggal 29 Juli 2026 lalu adalah kali ketiga Pondok Pesantren Terpadu Alfatihah melakukan kegiatan outing class pada pesta adat di Kampung Balang Loe tepatnya Desa Balang Loe Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, Sulsel.

Outing class santri pesantren Alfatihah tersebut dilakukan di daerah ini sempena adanya pesta adat yang dikenal dengan nama Je’ne Je’ne Sappara.

Je’ne je’ne sappara menjadi tradisi  bagi sebagian masyarakat di wilayah bagian atas Kabupaten Jeneponto.

Syahdan di zaman kekuasaan karaeng karaeng di daerah Turatea Jeneponto , ada seorang karaeng diikuti yang sedang berjalan mengitari wilayah kekuasaannya. Saat dia memasuki sebuah kawasan yang saat ini bernama desa Balang Loe Kec. Tarowang, ia mendapati ada sebuah rumah yang beda sendiri model desain dan bentuk rumah tersebut.

Saat karaeng itu melihat rumah itu , karaeng itu bertitah kepada para pembantunya bahwa rumah tersebut akan ia jadikan rumah adat. Rumah tersebut adalah milik seorang tabib atau orang pintar dalam menyunat.

Saat karaeng tersebut mampir dan ingin mengetahui siapa pemilik rumah tersebut, ia hanya bertemu dengan istri sang tabbi ini. Sedang suaminya pergi bekerja di ladangnya.

Sepulang dari ladang istrinya menceritakan tentang tamu dan rombongannya serta mengabarkan titah dari karaeng itu. Sang tabbi pun tidak menerima keinginan dari karaeng itu, karena merasakan dipermalukan , ia pun membongkar rumahnya dan sebagian kayu yang menjadi bagian rumahnya di jadikan perahu dan pergi dari tanah tempat tinggalnya. Dia berlayar bersama keluarganya mengarungi lautan hingga berlabuh di sebuah yang hari ini di kenal dengan nama Sumbawa.

Beberapa tahun kemudian , anak anak di wilayah yang pernah dia dan keluarganya tinggali kini pun telah besar besar dan beranjak remaja. Banyak anak laki laki saat itu belum bersunat. Sebab tabbi yang ahli menyunat telah pergi meninggalkan kampung dan juga orang-orangnya.

Maka bermusyawarah para pemangku adat untuk mengirim utusan ke Sumbawa untuk mengajak dan meminta sang tabbi pulang . Tetapi harapan mereka jauh panggang dari api. Tabbi ini tidak mau pulang, beliau hanya memberikan panduan untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi di kampungnya dan juga memberikan syarat agar melakukan kegiatan adat di setiap bulan Safar tahun hijriyah sebagai wujud syukur kepada sang maha pencipta. Lalu pulanglah utusan itu ke kampung mereka membawa panduan dan amanah sang tabbi. Dari situlah tradisi ini di jaga betul oleh masyarakat balang loe dari hingga kini. Dan tradisi di kenal sebagai je’ne je’ne sappara.

Dalam pelaksanaan acara banyak kegiatan yang dilakukan  diantaranya pertandingan assempa dan a’lanja.

Assempa dan a’lanja adalah merupakan olah raga rakyat yang merupakan dua hal kegiatan yang khusus diikuti oleh kaum pria sahaja. Di mana dibutuhkan stamina, kekuatan fisik , sportif dan kekuatan menjaga amarah murka. Tidak jarang beberapa dekade lalu yang kalah dalam lomba ini tidak bisa menerima kekalahannya sehingga terkadang terjadi adu fisik bahkan berakhir di ujung badik.

Selain outing class santri Alfatihah ini dalam pesta adat je’ne je’ne sappara juga di rangkai pengukuhan pengurus baru Ikatan Santri Alfatihah (ISA) Pondok Pesantren Terpadu Alfatihah masa bakti 2026 – 2027.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *