Oleh: Irham Al-Hurr (Lelaki Cucu H. Lahali Bin Saidi dari garis Ambo dan Bolo’ Bin Lambu’ dari garis Amma)
SASTRA, SULENGKA.ID – Di antara dua sungai yang mengalir abadi Sungai Maesa dan Sungai Bialo berdiri sebuah desa yang bukan sekadar kampung di peta, tapi benteng jiwa yang dijaga oleh sejarah dan kehormatan. Dialah Desa Benteng Malewang. Tanah yang mengajarkan bahwa diam bukan berarti tunduk, dan kecil bukan berarti lemah.
Lima dusun menyusun denyut nadinya: Pammanggolo, Ompoa, Benteng, Malewang, dan Kulepang.
Setiap dusun adalah syair yang ditulis oleh leluhur dengan tinta perjuangan, keringat kesetiaan, dan darah kebijaksanaan. Di dalamnya tersebar kampung-kampung yang hidup bukan hanya oleh napas penduduknya, tapi oleh nyawa budaya yang terus menyala: Bulusimba yang bersaksi, Tanete yang meneduhkan, Kampong Parring yang menyulam waktu, Kampong Masigi yang menyuarakan iman, dan Tangnga-Tangnga yang jadi poros kehidupan.
Bukkuru Bulaeng (Pusaka Emas)
Benteng Malewang menyimpan lontara, bukan sebagai hiasan rak tua, tapi sebagai kitab hidup. Ia adalah warisan yang tak lapuk digerus musim, tempat di mana adat dan moral diikat dalam simpul kebenaran. Di dalamnya tersembunyi bukkuru bulaeng (pusaka emas), bukan karena nilainya, tapi karena kehormatannya. Ia adalah nyala harga diri, bukti bahwa desa ini tidak hanya hidup, tapi juga bermartabat
Tambung Bukua dan Bangkeng Batea
Sejarah Tambung Bukua menjadi saksi, bahwa suara leluhur tak pernah hilang. Ia hadir dalam hembusan angin dan gemericik air bukan sekadar kuburan tua, tapi altar sejarah yang tak boleh dinodai. Dan Bangkeng Batea mengingatkan kita bahwa tanah ini berdiri di atas janji, bukan sekadar pondasi, tanah tempat cerita masa silam bersemayam. tempat di mana sejarah menanam amarah suci.
Motto kami:
“Sicini rate tangnga, sicini rawa.”
Di tanah tengah kami berdiri tegak, di rawa yang dalam kami tetap tak goyah. Itu bukan sekadar kata, tapi sumpah yang diucap dengan nyawa.
Suara Untuk Pemimpin Desa
Izinkan suara ini menyentuh telinga pemimpin desa, bukan untuk dendam, tapi untuk pengingat bahwa pengkhianatan pada adat adalah luka yang tak bisa ditutup waktu.
Wahai pemangku kuasa, jangan kau cemari nama ‘Benteng Malewang’ dengan egomu. Jangan tukar nama baik leluhur kami dengan nafsu dunia. Jangan jadikan kehormatan yang diwariskan turun-temurun sebagai tangga untuk kepentingan pribadi.
“Kekuasaan itu bukan tahta, tapi titipan. Dan setiap titipan ada hisabnya.”
Lihatlah air Maesa, dengarlah suara Bialo, mereka mengalirkan pesan:
“Pimpinlah dengan hati, bukan nafsu dan ambisi, jadilah penjaga pusaka, bukan perusak warisan.”
Dan hari ini, ketika pemimpin mencederai nama desa,
Ketika ia lebih memilih kekuasaan daripada kearifan,
ketika ia menukar amanah rakyat dengan proyek yang membusuk,
ketika ia membungkam suara jujur dengan uang dan tipu daya.
maka amarah kami bukan sekadar keluhan.
Ia adalah sumpah yang meletup dari dada yang tak terima tanah ini diinjak harga dirinya!
Wahai pemimpin, dengarlah:
Jika engkau tak mampu jadi pelindung, maka jangan menjadi beban.
Jika tanganmu lebih banyak mengambil daripada memberi,
jika suaramu hanya menggema untuk kepentingan sendiri,
jika langkahmu menyesatkan jalan warisan leluhur—
Maka, tinggalkanlah jabatanmu!
Mundur dengan jantan!
Seorang pemimpin sejati tahu kapan saatnya turun dari singgasana
demi menjaga kehormatan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri: kehormatan desa.
Jangan biarkan namamu dikutuk oleh sejarah.
Jangan biarkan wajahmu hilang dari doa rakyat.
Karena jika kau terus bertahan dengan ego,
kau tidak sedang memimpin,
kau sedang menodai nama Benteng Malewang.
Dan hari ini, kami berdiri bukan di belakangmu,
tapi di depanmu untuk menagih pertanggungjawaban!
Benteng Malewang adalah tanah yang hidup karena kesetiaan, tumbuh karena kejujuran, dan kuat karena kebersamaan. Jika engkau benar pemimpin, maka jadilah seperti akar bambu yang merendah tapi menguatkan tanah.
Bukan untuk engkau dikenal, tapi untuk desa ini dikenang. Bukan untuk engkau berkuasa, tapi untuk nama Malewang tetap terjaga. Karena ketika engkau pergi, hanya satu yang tinggal : jejak yang kau tinggalkan di hati rakyatmu. **

Komentar 1
Mantab daengku