Penulis : Muhammad Rizal

SULENGKA.ID, GAYA HIDUP — Hampir semua orang tak mampu menolak minuman dan makanan yang manis. Mulai dari secangkir kopi yang bergula, kue ulang tahun hingga minuman kekinian yang bergula. Dibalik manisnya gula, kenapa begitu bikin ketagihan?

Ternyata, ada alasan biologis mengapa gula begitu digemari. Selain itu, gula juga memiliki dampak yang cukup berbahaya bagi kesehatan jika di konsumsi berlebih.

Secara ilmiah, gula bekerja cepat sebagai sumber energi. Saat masuk ke tubuh, gula langsung diubah menjadi glukosa, bahan bakar utama otak. Tak hanya itu, konsumsi gula merangsang otak melepaskan hormon dopamin, yang memberi rasa senang dan kepuasan. Efek ini membuat orang cenderung mencari rasa manis berulang kali.

Namun, terlalu banyak mengonsumsi gula dapat berdampak serius. Kelebihan gula dapat meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol jahat (LDL) yang memicu penyakit jantung. Gula juga mempercepat penumpukan lemak visceral di sekitar perut, yang berisiko pada obesitas dan sindrom metabolik.

Selain itu, kadar gula darah yang terus naik akibat konsumsi berlebih dapat membuat tubuh mengalami resistensi insulin, pintu masuk menuju diabetes tipe 2. Tidak hanya itu, gula juga meningkatkan risiko perlemakan hati non-alkoholik, mempercepat kerusakan gigi akibat bakteri mulut, serta memengaruhi kesehatan mental dengan meningkatkan risiko kecemasan hingga depresi.

Menurut data World Health Organization (WHO) konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 50 gram per hari atau sekitar 4 sendok makan. Jumlah ini mencakup gula dari makanan, minuman, maupun camilan olahan.

Dengan kata lain, gula memang punya sisi manis yang sulit ditolak. Tetapi jika dikonsumsi berlebihan, manisnya bisa berubah menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Bijak dalam mengatur asupan gula adalah kunci menikmati hidup sehat tanpa kehilangan kenikmatan.