Penulis : Redaksi

SULENGKA.ID, KULINER — Katirisallang atau Katirisala adalah kue tradisional Bugis-Makassar berbahan ketan, santan, telur, dan gula merah. Berlapis dua dengan cita rasa manis gurih, kue ini punya sejarah panjang dan makna filosofis.

Apa Itu Katirisallang?

Katirisallang (dikenal juga sebagai Katirisala atau Katirisalang) adalah kue tradisional khas Bugis-Makassar yang berbahan dasar beras ketan putih atau hitam, santan, telur, kelapa, dan gula merah.

Kue ini memiliki bentuk berlapis dua:

  • Lapisan bawah: terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan dan daun pandan.

  • Lapisan atas: terbuat dari campuran telur, santan, kelapa, dan gula merah.

Katirisallang dimasak dengan cara dikukus, menghasilkan tekstur lembut pada ketan dan legit manis pada lapisan atasnya. Perpaduan gurih dan manis inilah yang membuatnya digemari banyak orang.

Katirisallang dalam Kehidupan Masyarakat Bugis-Makassar

Sejak dulu, Katirisallang tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga bagian dari tradisi.

  • Acara keluarga: disajikan sebagai suguhan istimewa.

  • Pesta pernikahan dan hajatan adat: melambangkan kemanisan dan keberkahan.

  • Pengajian dan pertemuan keagamaan: jadi jamuan sederhana namun sarat makna.

  • Bulan Ramadan: mudah ditemukan di pasar takjil sebagai kudapan berbuka puasa.

Dengan cita rasa manis gurih yang khas, Katirisallang menjadi kue yang selalu ditunggu dalam setiap perayaan.

Sejarah Katirisallang

Berdasarkan catatan kuliner tradisional, Katirisallang diperkirakan berasal dari wilayah Ajatappareng (Sidrap, Parepare, dan Pinrang). Meski tidak ada catatan pasti kapan kue ini pertama kali dibuat, para sejarawan kuliner memperkirakan Katirisallang sudah dikenal sejak abad ke-17.

Pada masa itu, kue ini kerap disajikan dalam acara besar kerajaan atau pesta bangsawan Bugis. Dari sanalah, Katirisallang kemudian menyebar ke masyarakat luas dan bertahan hingga sekarang.

Filosofi di Balik Nama Katirisallang

Nama Katirisallang memiliki makna filosofis yang dalam:

  • Tiri dalam bahasa Bugis berarti menetes.

  • Sala berarti salah atau tidak benar.

Makna ini tercermin dalam lapisan kue: gula merah yang biasanya berada di dasar justru ditempatkan di bagian atas. Filosofi ini mengajarkan bahwa meskipun hidup terkadang tidak berjalan sesuai harapan, dari setiap ketidaksempurnaan tetap bisa lahir keindahan dan kenikmatan.

Katirisallang bukan hanya sekadar kue tradisional, melainkan warisan budaya yang menyimpan filosofi hidup mendalam. Dari dapur masyarakat Bugis hingga meja jamuan bangsawan, Katirisallang telah menjadi simbol kebersamaan, keikhlasan, dan kebijaksanaan hidup.

Bagi pecinta kuliner Nusantara, mencicipi Katirisallang berarti merasakan manisnya tradisi dan legitnya warisan budaya yang terus hidup hingga kini.