SOSOK, SULENGKA.ID – Dafa Cafe adalah salah satu Cafe tersohor di Kabupaten Bulukumba. Cafe yang kini memasuki usia satu dekade itu, terus berkembang dengan segala inovasinya.
Founder Dafa Cafe, Suratno Hadisuwito menceritakan bagaimana suka duka ia mendirikan Dafa Cafe. Yang awalnya franchise Teh Poci dan diberi bernama Kedai Teh Poci hingga menjadi Dafa Cafe.
Histori
Pria yang akrab disapa Eqy ini menjelaskan bahwa tahun 2013 ia memulai usaha Franchise Teh Poci. Lokasinya berada di depan rumahnya di Jalan Muchtar Lutfi.

“Di depan rumah yang menjadi Kedai Teh Poci ini semrawut. Pagar masih pakai kayu dan papan, di situ ada pohon Jambu, Jati, Mangga, anggrek dan berbagai tanaman lainnya acap kali menyebutnya Hutan Kota,” kata dia.
Lokasi jualannya yang tidak jauh dari SMAN 8 Bulukumba membuat ia menargetkan marketnya untuk anak sekolah. Seiring berjalannya waktu produk teh poci nya itu di terima dengan baik oleh para siswa.
“Akhirnya saya melakukan pengembangan lagi. Para siswa biasanya meminta izin untuk membuang sampah. Padahal sebenarnya mereka keluar lokasi sekolah untuk beli teh poci,” ungkapnya.
Melihat potensi tersebut, ia meminta izin pada pihak SMAN 8 Bulukumba untuk menjual di dalam sekolah untuk meminimalisir siswa keluar lokasi sekolah. Akhirnya ia di terima.
Lokasi jualan persis di depan kelas,cukup strategis tetapi tidak ada listrik. “Namanya cari cuan, kami ambil listriknya dari rumah karena dekat sekolah. Di situ kami makin di kenal. Setelah itu kami cari karyawan,” ungkapnya.
Transformasi
Peluang itu dimanfaatkan dengan baik, menjelang satu tahun kedainya itu, ia melakukan renovasi dan tranformasi. Di momen ini, ia mengubah nama menjadi Dafa Cafe. Dafa merupakan nama anak pertamanya. Hal itu yang menjadi nawacitanya dalam dunia usaha.
“Produk yang awalnya sulit dan sering kali mendapat penolakan ketika di jajakan pada akhirnya diterima khalayak umum seiring waktu, berawal dari meminjam lokasi untuk merintis jualan hingga akhirnya mampu mengakuisisi, dibangun bertahap, dari jualan pakai gerobak jadi kios kecil, dan dalam 4 tahun perjalanan mampu dibangun seperti yang bisa kita lihat saat ini,” kata dia.
Lebih lanjut Eqy menjelaskan bahwa, pada saat nama telah berubah menjadi Dafa Cafe, ia melihat banyak peluang yang bisa ia kelola dengan baik. “Jadi, 2016 an, saya menjual green tea dan Thay tea dan Taro. Orang awam menyebutnya jualan minuman tai (untuk menu Thai Tea). Nah di situ juga siklus berubah, dari minum jus menjadi minum teh dengan variannya,” kata Eqy.
Peluang lain yang ia lihat adalah, pengembangan bagaimana teh dan kopi di buat satu atap. Kedai Teh Poci sudah melekat, bahwa jualan teh.
“Dafa menjadi brand yang universal. Pada akhirnya kita jualan teh dan kopi. Segmentasi marketnya juga bertambah,” lanjutnya.
Pada akhirnya kita kolaborasikan antara kopi dan teh. “Akhirnya 2017, kami buka cabang,” kata Eqy.
Peluang di Masa Covid 19
Sementara itu, Owner Dafa Cafe, Ulfa Puspita Baharuddin SE mengatakan masa pandemi menjadi pelajaran berharga bagi Dafa Cafe.
“Kita survival melalui gojek dan kurir pada saat masa pandemi. Di situ juga karyawan berkurang. Kami cuman goyang satu bulan, setelah itu normal,” katanya.
Selain itu ia juga menyebutkan tantangan lain, ia menjelaskan bahwa peluang usahanya justru terasa tahun 2023 ini.
“Yang paling terasa tahun ini di Januari sepanjang karir usaha. market dinamis tidak tertebak, Tapi kami lihat isu Nasional, memang lesu tahun ini. Konsumsi turun dan selain itu banyak tempat baru. Makin banyak pilihan,tetapi hal seperti lumrah dalan dunia usaha, kita harus selalu siap dan memiliki strategi menghadapinya ” kata dia.
Dia menambahkan bahwa dalam menangani Dafa Cafe, bagian terpenting adalah SDM (Karyawan), dengan visi membentuk pekerja profesional dan berkualitas, ia memberikan pencerahan untuk para karyawannya. bagaimana mereka (karyawan) mampu bekerja secara jujur, disiplin dan bertanggung jawab, kerja ringkas tapi efektif.
“Saya mencetak karyawan. Bukan saya yang di cetak karyawan. pada akhirnya suatu hari kita akan berpisah,tak luput pula motivasi Bahwa karyawannya harus lebih sukses daripada dirinya.Saya selalu mendorong karyawan untuk lebih baik dari saya. Selama kalian di DAFA CAFE kalian harus banyak belajar. kesuksesan tidak memandang dari mana kalian berasal, Jangan minder,” katanya.
Alhasil, beberapa karyawannya yang sudah resign saat ini bekerja di beberapa cafe ternama dan ada juga yang bekerja di perusahaan skala nasional maupun buka usaha sendiri.
Ia berharap, Dafa Cafe tetap berdiri kokoh diusianya yang satu dekade. “Kalau ada rejeki, kami bakal bikin trobosan baru dan punya market baru. Ia juga menyebutkan bahwa saat ini ia punya menu baru (Desert) di Dafa Cafe,” tutup dia. (*)
Biodata:
Nama: Suratno Hadisuwito/ Eqy
Alamat: K.H Mukhtar Lutfi
Hobi: Berjuang di jalan kebenaran
TTL: Watansoppeng, 26 September 1992
Nama orang tua Alm.H.Nasir / Almh. Hj Sakaria Palle
Akun FB: Eqyulfa
Biodata:
Nama: Ulfa Puspita Baharuddin S.E
Alamat: Jl.K.H.Mukhtar Lutfi
Hobi: Jualan dan healing
TTL: Ujung Pandang 23 juni 1988
Nama orang tua :
Bapak : Alm.Baharuddin AE
Ibu : Ir.Hj.Andi Rosniar Anwar
Akun FB : Ulfaeqy

