KESEHATAN,SULENGKA.ID – STIKES Panrita Husada Bulukumba melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)  menginisiasi program Pengembangan Desa SALUT (Desa Sehat Lansia Bebas Osteoartritis Lutut) di Desa Bijawang.

Kegiatan itu merupakan skema Pemberdayaan Masyarakat Pemuka (PMP) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026

Program tersebut hadir sebagai respons terhadap meningkatnya kasus gangguan sendi lutut pada kelompok lanjut usia (lansia) yang berdampak pada menurunnya mobilitas, produktivitas, dan kemandirian. Osteoartritis lutut diketahui menjadi salah satu penyakit degeneratif yang paling banyak dialami lansia serta menjadi penyebab utama nyeri dan keterbatasan aktivitas sehari-hari.

Ketua Tim Pelaksana PKM, Irma Suryani, menjelaskan bahwa Desa SALUT dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan lansia yang mengintegrasikan edukasi, skrining kesehatan, latihan fisioterapi, serta penguatan kapasitas kader kesehatan desa.

“Melalui Desa SALUT, kami ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa kesehatan lutut dapat dijaga sejak dini melalui pola hidup sehat, aktivitas fisik yang tepat, serta deteksi dini faktor risiko osteoarthritis,” ujarnya.

Program diawali dengan kegiatan survei dan pemetaan kondisi kesehatan lansia di Desa Bijawang. Hasil identifikasi menunjukkan masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai osteoartritis lutut serta minimnya layanan kesehatan yang berfokus pada kesehatan sendi bagi lansia.

‎Sebagai langkah solusi, tim pengabdian yang terdiri atas tiga dosen dan dua mahasiswa melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan lutut, pelatihan fisioterapi pada osteoartritis, senam kesehatan lutut lansia, hingga pendampingan kader kesehatan desa.

‎Selain itu, masyarakat juga diberikan berbagai media edukasi berupa booklet panduan, alat fisioterapi, dan video panduan latihan mandiri yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kegiatan penyuluhan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Para lansia bersama anggota keluarga memperoleh pemahaman mengenai tanda dan gejala osteoartritis, faktor risiko yang dapat dikendalikan, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

‎Sementara itu, pelatihan fisioterapi dan senam kesehatan lutut menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati peserta. Latihan tersebut dinilai mampu membantu meningkatkan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot sehingga mendukung aktivitas lansia secara mandiri.

‎Program Desa SALUT tidak hanya menyasar lansia, tetapi juga melibatkan kader PKK, kader kesehatan, dan pemerintah desa sebagai mitra strategis. Para kader diberikan pelatihan khusus agar mampu menjadi fasilitator dan pendamping bagi lansia dalam menjaga kesehatan lutut secara berkelanjutan.

Dengan keterlibatan kader dan pemerintah desa, keberlanjutan program diharapkan tetap terjaga meskipun masa pendampingan dari tim pengabdian telah berakhir.

Program ini sejalan dengan arah kebijakan pengabdian masyarakat Kemdiktisaintek yang mendorong hadirnya solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Desa SALUT diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan lansia yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

‎Melalui pengembangan Desa SALUT, STIKES Panrita Husada Bulukumba tidak hanya berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan lansia, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang menghadirkan solusi inovatif bagi masyarakat.

Ke depan, program ini diharapkan mampu mendukung terwujudnya desa ramah lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, serta bebas dari dampak disabilitas akibat osteoartritis lutut. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *