Dalam sesi praktik, peserta diajarkan membuat motif gradasi warna yang dapat diterapkan pada produk seperti selendang.

Ia berharap inovasi motif tersebut dapat menarik minat generasi muda atau kalangan milenial untuk menggunakan tenun Bira, baik sebagai busana, syal, maupun bagian dari gaya berbusana sehari-hari.

Salah satu penenun, Tasmawati, mengaku kehadiran Vinto memberikan perspektif baru bagi para pengrajin. Selama ini, para penenun cenderung membuat motif yang sama dari waktu ke waktu.

Menurutnya, para pengrajin sebenarnya sudah memiliki dasar keterampilan, namun belum cukup percaya diri untuk mencoba desain yang lebih modern.

“Mudah-mudahan setelah mengikuti pelatihan ini, kami bisa menghasilkan motif yang lebih variatif dan modern tanpa meninggalkan corak tradisional, karena keduanya tetap memiliki peminat,” ujarnya.

Ketua Dekranasda Bulukumba, Andi Herfida Muchtar, mengatakan pihaknya akan terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia bagi pelaku usaha kerajinan di daerah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *