PERTANIAN, SULENGKA.ID – Isu manipulasi harga gabah petani yang beredar beberapa waktu terakhir di kabupaten Bulukumba, Sulsel ditanggapi Koordinator Perkumpulan Penggilingan dan Pedagang Padi (Perpadi) wilayah V, Andi Syamsir, Kamis (10/04/2025).
Menurut Andi Syamsir, ketidakstabilan harga gabah di tengah musim panen di Bulukumba bukan disebabkan oleh Perum Bulog maupun mitranya, melainkan Tengkulak.
Tengkulak dari Luar Daerah Bulukumba yang Memainkan Harga !
Syamsir mengatakan bahwa harga gabah di Bulukumba dipengaruhi oleh tengkulak atau pedagang dari luar daerah yang masuk, dengan niat, kata Syamsir untuk membantu petani menjual gabah mereka.
“Saat mitra Bulog tidak bisa lagi menyerap karena kapasitas gudang sudah penuh, tengkulak dari luar daerah ini masuk dan memainkan harga,” ungkap Syamsir.
Apakah Mitra Bulog Menolak Gabah Petani Bulukumba ?
Syamsir juga membantah isu mitra Bulog menolak gabah petani di Bulukumba. Menurutnya, penolakan hanya terjadi kepada gabah yang berasal dari tengkulak, dengan asal-usul yang tidak jelas.
“Gabah petani tidak pernah kami tolak. Yang kami tolak biasanya gabah dari tengkulak yang tidak jelas asalnya,” jelas dia.
Apakah Bulog Menurunkan Harga Secara Sepihak?
Syamsir mengatakan bahwa Bulog maupun mitranya tidak pernah menurunkan harga secara sepihak.
“Bulog sangat tegas dengan aturannya. Jika ada mitra yang kedapatan bermain-main dengan harga, langsung dikenai sanksi, bahkan bisa dicoret dari daftar mitra resmi,” terangnya.
Imbauan untuk Petani
Lanjut Syamsir mengimbau petani agar tidak panik menghadapi musim panen yang bertepatan dengan musim hujan.
“Petani sebaiknya tidak panik. Kalau memungkinkan, jemurlah gabah sendiri saat cuaca cerah. Gabah yang masuk kategori kering giling (GKG) bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi,” imbau Syamsir.
Mitra Bulog Siap Mengantisipasi Lonjakan Hasil Panen
Untuk mengantisipasi lonjakan hasil panen, mitra Bulog saat ini juga terus menambah kapasitas penjemuran dengan menyewa fasilitas tambahan. Dengan demikian, diharapkan harga gabah di Bulukumba dapat stabil dan petani dapat memperoleh harga yang lebih baik. (**)

