Opini, Pelitarakyat.id — Proklamasi memberikan ruang, membuka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. 17 Agustus 1945 bung karno membacakan teks proklamasi. Itulah awal perasaan kemerdekaan tercipta di segenap manusia nusantara. Jika melihat proses terciptanya hari itu, ada banyak peran yang membuat perasaan itu tercipta.
Salah satunya, peran pemuda dalam menekan sang proklamator Bung Karno, penculikan dan rasa ingin melihat kemanusiaan tercipta di bumi pertiwi ini. Dan saat itu pula, semua proses kematangan mulai bermunculan hingga perasaan detik ini.
Peristiwa sistem Negara parlementer ke sistem presidensial, silih berganti dan muncul pula sistem terpimpin, hingga orde baru, reformasi yang belum bisa di rasakan secara menyeluruh atau kata lain, belum memiliki klimaks untuk semua manusia nusantara.
1965 peristiwa pembantaian Madiun dan pemberontakan PKI. Proses sejarah mulai bermuculan, walau pun bukan proses awal tapi membuat nusantara semakin kokoh dalam mengarungi kehidupan ber Nusantara.
Orde baru, sosok Soeharto dipandang sebagai penyelamat dalam mengatasi kerusuhan saat itu. Tiga puluh dua tahun berkuasa, merombak segala peninggalan orde lama yang di letakan oleh soekarno.
Fokus utama dalam zaman ini ialah pembangunan, gedung gedung menjulang tinggi, pembukaan jalan, pengolahan sumber daya yang di kelola asing. Membuka lebar investasi asing untuk masuk dalam nusantara, dan pembagiannya tetap, memberikan kepada pihak luar keuntungan yang lebih atau banyak, dibandingkan yang masuk kedalam negara.
Proses itu terus berjalan, hingga akhirnya bapak pembangunan tumbang dalam tangan mahasiswa dan tentu saja, pihak asing sendiri. Kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak akan pernah lepas dari tangan luar, kecuali pancasila dan teks yang dibacakan sang proklamator di maknai secara bijak dan melihatnya sebagai proses untuk terus bertumbuh, bukan hanya di hapalkan dan dipajang sebagai simbol semangat tanpa melihat proses terbentuknya.
Jatuhnya sang bapak pembangunan, maka naik tahta lah sang wakil presiden waktu itu, BJ.Habibie, bapak dengan ide kemajuan yang menciptakan segala penemuan penemuan baru untuk menandai modernitas mulai masuk. Namun, tidak bertahan lama bapak penemuan (bahasa penulis), akhirnya kembali selesai. Maka lahirlah bapak toleransi Gus Dur, di julukinya bapak toleransi karena, menghargai perbedaan yang ada dan tanpa melihat agama,suku, budaya dan kebiasaan.
Bapak toleransi juga tidak bertahan lama, proses politik yang semakin dewasa (mungkin), yang membuat ketua MPR dan beberapa politis pada saat itu, memilih menyudahi waktu sang bapak toleransi. Maka dari itu, perempuan pertama sebagai presiden lahir sebagai pemimpin baru yang diwarnai dengan gejolak patriarki saat itu, yang mengatakan bahwa seorang perempuan tidak layak menjadi pucuk pimpinan dalam sebuah institusi atau pun Negara.
Melihat dari segala apa yang terjadi, ibu dan sekaligus presiden Negara kembali diserang oleh isu-isu patriarki, memang Megawati adalah anak dari sang bapak proklamator Bung Karno, tetapi dia adalah seorang perempuan dan tidak mungkin menjadi kepala negara dengan waktu yang lama. Hingga akhirnya periode pemilihan langsung memasuki tahapnya dan ibu Megawati kembali dalam pertarungan.
Pada era pemilihan langsung, Megawati kembali bertarung dengan segala keyakinan akan terpilih kembali, tetapi itu semua hanya angan belaka, sebab unsur tentara kembali menguat di permukaan. Susilo Bambang Yudhoyono, sang mantan tentara memenangkan pertarungan waktu itu. Walau pun partai besutan Megawati adalah partai besar, tetapi itu bukan jaminan untuk menang dalam pertarungan pemilihan presiden waktu itu.
Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi pemimpin Negara dengan memenangkan dua kali pertarungannya. Hingga akhirnya, masa pemerintahan sipil kembali hadir dalam gelanggang pucuk tertinggi pimpinan negara. Dengan sang konseptor (Megawati) yang membuat segala gerakan, meracik mulai dari dasar hingga memunculkan nama Jokowi Widodo sebagai orang nomor satu di Republik ini. Partai demokrasi Indonesia perjuangan, merasakan lamanya menjadi oposisi dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dan itu yang membuat PDIP memutar otak untuk kembali menjadi partai berkuasa.
Benar saja, racikan PDIP dan tentu saja Megawati sebagai ketua umum, kembali memenangkan pertarungan pilihan presiden, dan bukan saja sampai disitu, pemilihan legislatif juga dapat dimenangkan oleh Partai Megawati. Tentu ini semua tidak terlepas dari jiwa besar sang ibu ketua umum, Megawati Sukarno Putri. Ego, rasa mengedepankan tujuan bersama (partai), dan rasa oposisi yang lama, membuat megawati memilih kader partai untuk diusung.
Dua kali pertarungan pemilihan presiden, dua kali pula di menangkan oleh PDIP. 2024 kembali menjadi arena PDIP untuk ber kontestasi dalam pemilihan presiden dan legislatif. Apalagi, PDIP bisa mencalonkan calon presiden dan wakil presiden walau pun tanpa koalisi. Semua itu dikarenakan ambang batas pencalonan presiden dapat diraih oleh PDIP sendiri. Dan kali ini, sebagai partai yang memiliki proses kaderisasi yang berjalan, kembali mengusung kadernya sendiri.
Teks proklamasi yang di bacakan oleh sang proklamator pertama, hanya membentuk rasa kemerdekaan. Zaman terus berganti, pucuk tertinggi dalam kepemimpinan juga akan berganti. Rasa keadilan, ekonomi, politik, dan tentu saja kemanusiaan, belum bisa diciptakan oleh banyaknya pemimpin yang bermuculan. Partai politik, sebagai penggerak perubahan dalam skala besar, luas dan menyeluruh, ternyata belum mampu membuktikan itu semua.
Penulis: Dodi Pratama Putra
Kader PMII Kabupaten Gowa
