Penikmat cerita kolosal Ramayana pasti tidak asing dengan pengejawantahan sosok Raja Dasamuka (wajah sepuluh/kepala sepuluh) atau lebih dikenal Rahvana Raja kerajaan Alengka, Raksasa yang dikenal dengan kebengisannya.
Semua hal buruk selalu dinisbatkan kepadanya. Bahkan semenjak lahir pun sudah dianggap sebagai anak haram, hasil hubungan yang tidak dikehendaki antara Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi.
Kelakuannya pun bisa dibilang kurang ajar, yaitu menculik istri orang selama bertahun-tahun. Sungguh tak elok dan tidak sesuai dengan tata laku kesopanan secara umum.
Pada dasarnya semua orang punya dua sisi, coba sekarang kita melihat dari sisi Rahvana yang penuh cinta kasih, sisi lain yang kita tak pernah orang sadari.
Dalam sebuah epik diceritakan, Rahvana hanya mencintai satu wanita, Dewi Setyawati. Hingga kemudian sang dewi meninggal dan kemudian menitis ke Dewi Sintha. Rasa di hati Rahvana selalu tersimpan utuh. Hingga akhirnya sang waktu mempertemukannya dengan Dewi Sintha, yang sayangnya sudah menjadi istri Rama, raja Ayodya, karena memenangi sayembara di kerajaan Mantili.
Dengan rasa cinta begitu dalam kepada Dewi Sintha, Rahvana diperhadapkan dengan pilihan yang begitu sulit, merelakan atau merebutnya dari tangan Sri Rama dengan taruhan apapun. Dan, Rahvana memilih untuk merebutnya.
Rahvana mengutus Kala maruta untuk menggoda Dewi Shinta. Dewi Sintha yang sedang berjalan-jalan di tengah hutan dikawal Lesmana, Kala Maruta yang tak ingin melewatkan kesempatan menjelma menjadi Kidang Kencana membuat Dewi Sintha lepas dari pengawasan Lesmana. Dan, pada akhirnya Rahvana berhasil menculiknya.
Setelah berhasil menculiknya dari tangan Sri Rama, Dewi Sintha dibawah ke kerajaan Alengka, dia (Dewi Sintha) ditempatkan di taman Argasoka yang konon katanya replika keindahan surga.
Bertahun tahun Dewi Sintha di dimuliakan, tak pernah disentuh apalagi untuk disakiti. Setiap hari Rahvana datang untuk menyatakan cinta dan bahkan ribuan puisi keindahan ia persembahkan, “Duhai wanita terkasih, engkaulah satu-satunya wanita yang terpatri di tulang dan tercetak di jantung. Aku siap mati untukmu,” kata Rahwana penuh harap kepada Sinta. setiap hari pula Rahvana hatinya remuk dengan penolakan.
Walaupun begitu tak sedikitpun sikap Rahvana berubah, cintanya terlalu tulus, Rahvana percaya suatu hari entah sampai akhir hayatnya hati Dewi sintha akan luluh. Walaupun tak henti-hentinya menolak tawaran Rahvana, diam-diam Shinta mulai mengagumi kegigihan hati Rahwana.
Hati wanita mana yang tak luluh mendengar pengakuan jujur dari seorang lelaki yang begitu ksatria dalam mengungkapkan cintanya, tak ada malu ataupun merasa rendah.
Tiga tahun lamanya Dewi Sintha berada istana Alengka, ia mempertanyakan cinta sang suami (Sri Rama) yang tak kunjung menyelamatkannya. Sampai akhirnya Dewi Sintha menjawab, “Jujur. Aku sebenarnya juga mencintaimu. Kau selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi.. aku juga tak mau menghianati cinta suamiku. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku kepada suamiku.”
Kata kata Dewi Sintha bagaikan mantra sihir di telingan Rahvana, “Baiklah jika Sri Rama mampu mengalahkanku, kau boleh kembali ke pelukan suamimu”.
Tiba masa dimana Sri Rama dan Hanoman bersama ribuan bala tentara Wanara menyerbu Alengka, perang pun pecah sampai akhirnya Rahvana berhasil dilumpuhkan, Alengka kini terbakar habis bagaikan lautan api.
Kata kata terakhir Rahvana “Yah Dewa, mengapa kau bangun megah cinta dihatiku, jika Sintha tak mampu menjadi milikku”.
Dengan kebengisan yang disifati Rahvana, bahwasanya ada sisi lain dari diri rahvana yaitu keteguhan dan ketulusan.
Penulis: Muhammad Eris
Editor: Muhammad Rizal
