SULENGKA.ID, NEWS — Pencak Silat Jejak Agung memiliki jejak yang cukup panjang di Kabupaten Bulukumba. Tak heran sejumlah prestasi juga telah di torehkan hingga mengharumkan nama Kabupaten Bulukumba.
Pencak Silat Jejak Agung juga dikenal sebagai silat bugis Bulukumba. Perkumpulan silat ini didirikan oleh Abah Mursidik. M. Gudan pada tanggal 25 Mei 1995.
Diketahui, bela diri ini merupakan seni bela diri tradisional campuran dari suku Bugis Makassar yang berasal dari Sulawesi Selatan, Indonesia.
Silat Jejak Agung ini telah diwariskan oleh tokoh pendekar keluarga yang bernama Gudan bin suppu, H. Arsyad bin Gudan dan H. Masbuky bin Gudan, dari keluarga ke keluarga dan generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya dan tradisi seni masyarakat Bugis Bulukumba.
Sejarah Pencak Silat Jejak Agung
Silat Jejak Agung memiliki akar yang sangat tua, berhubungan erat dengan sejarah Tokoh tokoh pendekar Bugis Makassar, seperti Pendekar Bantaeng dan Bulukumba.
Seni bela diri Jejak Agung ini berkembang sebagai alat pertahanan diri di kalangan bangsawan dan prajurit kerajaan. Seni bela diri Jejak Agung ini juga dulunya di gunakan dalam perang dan dalam menjaga wilayah lingkungan mereka para tokoh sesepuh dari mengusir penjajah asing.
Pengaruh Islam
Seiring dengan masuknya Islam di Sulawesi Selatan, silat Jejak Agung juga dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam.
Banyak aspek dari seni bela diri ini kemudian dihubungkan dengan etika dan moralitas dalam ajaran agama Islam, seperti pentingnya kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab sosial.
Penyebaran
Silat Jejak Agung ini tidak hanya berkembang di Sulawesi saja,tetapi juga sudah mulai menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia.kalimantan dan bahkan ke Malaysia melalui perantau keantar pulau yang dilakukan oleh para murid Jejak Agung.
Dalam perantauan ini, murid Jejak Agung membawa serta budaya dan seni bela diri mereka.
Tradisi Seni dan Nilai silat dalam Silat Jejak Agung
Keberanian dan Kemandirian
Silat Jejak Agung erat kaitannya dengan filosofi hidup orang Bugis Makassar yang menghargai keberanian (semangat) dan kemandirian (siri’ dan pacce). Siri’ adalah konsep harga diri dan kehormatan yang selalu di junjung tinggi, sedangkan pacce adalah empati dan solidaritas antar sesamanya seperguruan.
Dalam tradisi Silat Jejak Agung, mempertahankan siri’ adalah kewajiban, termasuk dengan menggunakan silat jika di perlukan.
Dengan semboyan (Diam bersama kesabaran tapi selalu siap tempur dengan kejam dan ganas).
Pertunjukan dan Ritual
Silat Jejak Agung sering di pertunjukkan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan, upacara penyambutan tamu penting, dan acara-acara lainnya. Para pesilat jejak agung akan menunjukkan gerakan-gerakan indah yang menggambarkan teknik bertahan, membela dan menyerang, dan sering kali di iringi dengan alat musik tradisional.
Pelatihan Silat Jejak Agung
Silat Jejak Agung umumnya di mulai sejak usia muda, terutama bagi kaum pria maupun wanita. Pelatihan ini melibatkan latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan, serta pelajaran tentang filosofi di balik gerakan-gerakan silat.
Para murid jejak agung di latih untuk menguasai berbagai teknik bela diri kombinasi, baik dengan tangan kosong maupun menggunakan senjata tradisional seperti badik, parang, dan tombak atau toya.
Teknik dan Gaya Silat Jejak Agung
Silat Jejak Agung memiliki beberapa aliran dan gaya, yang bervariasi dari berbagai aliran. Namun, beberapa teknik dasar meliputi gerakan cepat, tepat dan kuat, serangan mematikan, serta penggunaan senjata tradisional.
Gerakan-gerakan dalam silat Jejak Agung sering kali memanfaatkan kelincahan untuk menghindari serangan lawan dan kemudian menyerang balik dengan cepat dan tepat yang mematikan.
Simbolisme dalam Silat Jejak Agung:
Silat Jejak Agung juga memiliki banyak simbolisme yang terkait dengan kehidupan dan kosmologi Bugis Makassar.
Gerakan-gerakan dalam silat jejak agung ini sering kali melambangkan keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan, serta keseimbangan antara dunia fisik dan mental spiritual.
Ini mencerminkan pandangan hidup orang Bugis yang memandang dunia sebagai tempat di mana keharmonisan harus selalu di jaga dan saling menghargai.
Melalui sejarah singkat dan seni tradisi daerah ini, Silat Jejak Agung tetap menjadi salah satu warisan budaya penting bagi Bulukumba yang harus di hargai masyarakat Bugis Bulukumba.
Sebagai wujud kepedulian kita akan kelestarian seni tradisi budaya daerah ini, yang selalu kita perjuangkan, Alhamdulillah Perguruan Jejak Agung masih tetap kokoh berdiri hingga saat ini.
Pembina Pencak Silat Jejak Agung Bulukumba, Fadya Resma menjelaskan bahwa selama 2024, Pencak Silat Jejak Agung telah menorehkan banyak prestasi.
“Selama 2024 kami telah menorehkan prestasi yakni 23 Emas, 17 Perak dan 8 Perunggu di semua level kompetensi yang telah di ikuti oleh Pencak Silat Jejak Agung Bulukumba,” kata dia.
Ia juga berharap pada pemerintah agar memberikan support lebih terhadap Pencak Silat Jejak Agung di Bulukumba. “Tentu kita juga berharap semoga dukungan pemerintah lebih di tingkatkan lagi,” ungkap Fadya.

