Amerika Serikat (AS) kini menuju kebangkrutan atau gagal bayar (default). Pasalnya, sisa beberapa hari lagi, belum ada keputusan batas utang pemerintah AS akan naik atau tidak.
Hal ini menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia. Meskipun sebenarnya seringkali terjadi.
“Debt Ceiling di AS sering terjadi,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis, 25 Mei 2023. Di kutip dari CNBC Indonesia.
Perry menjelaskan, yang menjadi perhatian pasar saat ini adalah poin negosiasi yang akan di sepakati. Apabila permintaan pemerintahan Presiden AS Joe Biden di penuhi, maka bisa mendorong kenaikan US Treasury.
“Kalau debt ceiling-nya tinggi, tentu jumlah utangnya tinggi dan UST akan tinggi. Kemungkinan akan mempengaruhi bagaimana respons dari the Fed. Kalau debt ceiling tinggi, growth akan tinggi, inflasi tinggi,” paparnya.
Beda cerita kalau misalkan belanja pemerintah yang dipangkas. Menurut Perry, situasi tersebut akan mendorong suku bunga acuan AS lebih rendah dari posisi sekarang 5-5,25%.
Beda cerita kalau misalkan belanja pemerintah yang dipangkas. Menurut Perry, situasi tersebut akan mendorong suku bunga acuan AS lebih rendah dari posisi sekarang 5-5,25%.
“Kalau spending cut berarti jumlah utang rendah dan yield treshold tak akan setinggi itu dan FFR bisa saja tidak hanya hold tapi akan turun,” terang Perry.
Maka dari itu di sebutkan ketidakpastian global kini kembali tinggi. “Yang di hadapi sekarang UST kuat, dolar kuat, mata uang kena tekanan,” pungkasnya. (*)

