Penulis : Redaksi

Politik, Pelitarakyat.id — Peringatan Hari Guru Sedunia atau World Teachers’s Day jatuh pada Kamis, 5 Oktober 2023. 

Melansir laman UNESCO, tema Hari Guru Sedunia 2023 yang diusung adalah “The teachers we need for the education we want: The global imperative to reverse the teacher shortage”. Artinya, “Guru yang kita butuhkan untuk pendidikan yang kita inginkan: Keharusan global untuk mengatasi kekurangan guru”.

Di momentum World Teachers’s Day, Calon Anggota DPRD Bulukumba, Akhmad Irfan memberi tanggapan terkait kondisi guru secara garis besar di Indonesia. 

Caleg DPRD Bulukumba Dapil I Ujung Bulu – Ujung Loe Partai PKS itu menjelaskan bahwa hari guru belum menjadi sesuatu yang membanggakan di Indonesia. 

“Masih ada pelecehan terhadap profesi guru dengan asumsi orang tua menggaji guru, sehingga guru harus taat kepada yang menggaji. Kalau menggunakan logika begini ya repot! Akibatnya, ada orang tua yang memarahi guru gara-gara nilai anaknya yang tidak sesuai harapan,” kata dia. 

Menurut Irfan, Guru belum mendapatkan penghargaan yang layak, terutama di daerah. Kekurangan guru tidak diselesaikan dengan merekrut lebih banyak guru, tetapi mengambil tenaga honorer. 

“Saya belum bisa memahami logikanya, selain bahwa gaji guru honorer itu lebih rendah dari guru tetap. Apakah demi alasan penghematan? Saya tidak tahu,” ungkapnya. 

Ia menyebutkan bahwa prestasi guru dalam mengajar dihargai sebatas nilai yang diraih siswanya. “Tentu Ini jelas logika yang salah, karena hasil belajar adalah kolaborasi guru yang mengajar dengan baik, dan siswa yang mau belajar. Akibat dari logika salah itu, guru yang mengajar dengan baik tidak dihargai ketika nilai siswa yang diajarnya buruk,” kata dia.

Namun, lanjut Irfan, guru yang mengajar ala kadarnya justru dihargai, karena nilai siswanya baik. Bahkan sistem akreditasi masih menggunakan logika yang salah ini.

“Poin pentingnya adalah guru harus di lindungi agar tidak semata-mata menjadi pengajar tapi mendidik,” tutup dia.

Sekadar diketahui, sejarah hari guru sedunia dimulai saat UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) mencanangkan Hari Guru Sedunia yang pertama diperingati pada tanggal 5 Oktober 1994.

Peringatan ini memperingati hari jadi diadopsinya Rekomendasi ILO/UNESCO tentang Status Guru tahun 1966.

Hal tersebut, berkaitan menetapkan tolak ukur mengenai hak dan tanggung jawab guru, standar untuk persiapan awal dan pendidikan lanjutan, perekrutan, pekerjaan, dan kondisi belajar mengajar mereka.

Hari Guru Sedunia diselenggarakan bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO), UNICEF dan Education International (EI). Berbagai upacara dan penghargaan diberikan bagi guru-guru dunia yang telah melampaui ekspektasi untuk profesinya.

Banyak negara mengadakan kompetisi di mana pendidik khusus dapat dinominasikan untuk memenangkan gelar penting guru terbaik.

Saat ini, Hari Guru Sedunia telah dirayakan di lebih dari 100 negara.