SULENGKA.ID, PERTANIAN — Meskipun telah banyak kemajuan, pertanian di Jepang juga menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan perhatian dan solusi inovatif.

Salah satu tantangan terbesar adalah populasi petani yang menua dan menurun. Banyak petani di Jepang berusia di atas 60 tahun, dan minat generasi muda untuk terjun ke pertanian relatif rendah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang kelangsungan sektor pertanian di masa depan.

Di lansir dari laman nippon.com, Selama beberapa dekade terakhir, populasi petani Jepang terus menurun karena usia rata-rata petani telah meningkat. 

Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dalam sensusnya tentang industri pertanian dan kehutanan menemukan pada tahun 2015 bahwa terdapat 2,09 juta orang yang terlibat dalam pertanian, yang merupakan penurunan sebesar 60% di bandingkan dengan tiga dekade sebelumnya. 

Jumlah orang yang mencari nafkah utamanya dari pertanian adalah 1,75 juta, menandai pertama kalinya angka ini turun di bawah 2 juta. Di antara mereka yang terutama terlibat dalam pertanian, 63,5% berusia 65 tahun atau lebih, atau 3,3 kali lebih banyak dari 30 tahun yang lalu.

Perubahan iklim global juga mempengaruhi pola cuaca di Jepang, yang berdampak pada produksi pertanian. Musim hujan yang tidak menentu, badai, dan peningkatan suhu adalah beberapa tantangan yang di hadapi petani dalam mengelola tanaman mereka.

Jepang juga menghadapi persaingan global yang ketat, terutama dari negara-negara dengan biaya produksi yang lebih rendah. Untuk tetap kompetitif, Jepang harus terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi produksinya.

Nah, itulah kondisi yang harus di hadapi negara Jepang. Berkurangnya petani menjadi salah satu poin penting yang harus menjadi perhatian negara yang berjuluk sakura ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *