MARDESA, SULENGKA.ID Sejumlah petani di Desa Balibo, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mengeluhkan tumpukan sampah yang membanjiri area persawahan mereka. Sampah tersebut diduga berasal dari limbah rumah tangga warga yang terbawa arus hujan dan masuk ke saluran irigasi persawahan, Kamis (25/12/2025).

Salah seorang petani, Ramli, mengaku terkejut saat mendatangi sawah yang baru saja selesai digarap. Alih-alih siap ditanami, lahan tersebut justru tertutup sampah hingga nyaris tak terlihat permukaan tanahnya.

“Hampir seluruh area sawah kami tertutup sampah. Tanahnya sudah tidak kelihatan, padahal baru saja selesai digarap,” keluh Ramli, Kamis (26/12).

Menurut Ramli, kondisi tersebut sangat merugikan petani karena menghambat proses tanam dan berpotensi menurunkan hasil produksi. Ia berharap pemerintah desa segera turun tangan dengan memberikan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke selokan dan saluran irigasi.

“Dampaknya sangat besar bagi kami petani. Semua sampah akhirnya masuk ke sawah,” ujarnya.

Ramli menambahkan, upaya pembersihan telah dilakukan secara mandiri oleh petani selama beberapa hari terakhir. Namun, volume sampah yang terlalu banyak membuat proses pembersihan belum juga selesai.

“Sudah dua hari saya angkut sampah keluar dari sawah, tapi masih menumpuk,” katanya.

Ditemukan Limbah Medis

Petani temukan sejumlah limbah medis dalam tumpukan sampah di area persawahan. Kamis (25/12).

Ironisnya, tumpukan sampah tersebut tidak hanya didominasi limbah rumah tangga. Petani juga menemukan sejumlah limbah medis yang berserakan di area persawahan. Limbah tersebut diduga berasal dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Balibo yang lokasinya berdekatan dengan area sawah dan ikut terbawa aliran air.

“Di sekitar sini hanya Puskesmas Balibo yang paling dekat,” ucap Irwan, juga salah seorang petani.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak redaksi masih berupaya mengonfirmasi pemerintah Desa Balibo dan pihak Puskesmas Balibo, namun belum mendapatkan tanggapan.

Peristiwa ini kembali menegaskan lemahnya pengelolaan sampah di tingkat desa. Diperlukan kesadaran kolektif masyarakat serta langkah konkret dari pemerintah desa melalui program pengelolaan sampah berbasis ekologi agar persoalan serupa tidak terus berulang dan merugikan petani. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *