Oleh: Irham Al-Hurr (Seorang lelaki, Ambo beranak satu yang bernama Divy Daeng Banri)
SASTRA, SULENGKA.ID – Di balik megahnya Gunung Lompobattang yang menjulang tinggi di Butta Panrita Lopi (Bulukumba), Sulawesi Selatan, tersembunyi sebuah kampung kecil bernama Senggang.
Terletak di Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, kampung ini memang tak tercantum dalam peta wisata nasional. Namun, keunikannya menjadikan Senggang sebagai permata tersembunyi yang kaya akan cerita dan makna.
Senggang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Tujuh rumah sederhana yang kokoh berdiri berdampingan di lereng gunung, mencerminkan kedekatan sosial dan ikatan batin antarwarga. Kehidupan dijalani dengan penuh kesederhanaan, namun dibalut semangat kebersamaan dan kerja keras yang luar biasa.
Masyarakat Senggang menggantungkan hidup dari bertani, terutama dari kopi yang tumbuh subur di tanah pegunungan yang sejuk.
Kopi bukan sekadar komoditas, tapi bagian dari identitas dan kebanggaan warga.
Aroma biji kopi yang disangrai kerap menyambut pagi, menyatu dengan kabut tipis dan kicauan burung, menciptakan suasana damai yang sulit dilupakan.
Senggang juga menjadi tempat persinggahan para pendaki yang hendak menuju puncak Gunung Lompobattang. Meski tanpa fasilitas penginapan mewah, warga dengan ramah membuka pintu rumah mereka. Para tamu disambut dengan makanan hangat, tempat tidur sederhana, serta cerita-cerita lokal yang sarat makna. Kehangatan khas Makassar membuat siapa pun merasa seperti berada di rumah sendiri.
Ballo’ Sene Lambiri
Selain kopi, pengalaman khas lain yang tak boleh dilewatkan di Senggang adalah mencicipi minuman tradisional aren (ballo’) sene lambiri. Minuman ini dibuat dari nira pohon aren yang difermentasi secara alami. Ballo’ sene lambiri memiliki cita rasa manis, sedikit asam, dan menyegarkan—sangat cocok dinikmati saat malam hari di kaki gunung yang dingin.
Minuman ini biasanya disuguhkan oleh Daeng Ala’, sosok penjaga kampung yang juga dikenal sebagai tuan rumah bagi para pendaki dan pelancong. Dengan keramahan khasnya dan pengetahuan mendalam tentang adat serta alam Senggang.
Daeng Ala’ tak hanya menyuguhkan ballo, tapi juga membagikan kisah-kisah lokal yang penuh nilai dan filosofi hidup.
Mata Air Yang Tak Pernah Kering
Senggang juga diberkahi mata air alami yang tak pernah kering. Dari mata air ini, mengalir sungai-sungai kecil yang menghidupi kebun-kebun kopi, menyediakan air bersih, dan menjadi bagian dari aktivitas harian warga. Suara gemericik air, desir angin, dan suara alam lainnya menjadi simfoni yang menemani keseharian mereka.
Kampung ini adalah contoh nyata bagaimana komunitas kecil dapat memberi kontribusi besar dalam pelestarian budaya dan ekosistem wisata. Mereka hidup selaras dengan alam, menjaga tradisi, dan menyambut tamu dengan tulus. Kebahagiaan mereka bukan berasal dari kemewahan, melainkan dari kedekatan antarwarga dan makna hidup yang mereka jalani.
Senggang adalah tempat yang tepat untuk refleksi diri—jauh dari hiruk-pikuk kota. Kejernihan mata air, aliran sungai, megahnya pegunungan, serta hangatnya secangkir kopi dan seteguk ballo sene lambiri, menjadikan kampung ini begitu membekas di hati.
Bagi siapa pun yang merindukan ketenangan, kealamian, dan kehangatan sejati, Senggang adalah jawabannya—kampung kecil yang akan meninggalkan jejak besar di hati setiap tamunya. (*)
Penulis Naskah: Irham Al-Hurr
- Anak Gunung
- Aren
- Ballo' Sene lambiri
- Borong Rappoa
- Bulukumba
- Butta Panrita Lopi
- Cerita Kampung di Bulukumba
- Cerita Kopi
- Daeng Ala'
- Gunung Lompobattang
- Juru Kunci Gunung Lompobattang
- Kabupaten Bulukumba
- Kaki Gunung Lompobattang
- Kampung Senggang
- Kampung yang penuh kehangatan di kaki gunung
- Kecamatan Kindang
- Minuman Tradisional Ballo
- Pendaki Gunung
- Sastra
- Senggang
- sulawesi selatan

Komentar 1
Sangat menyentuh