PERTANIAN, SULENGKA.ID — Penyangga Tatanan Negara Indonesia (Petani) merupakan istilah yang di sematkan pada mereka yang bekerja di bidang pertanian. Di masa lampau, gotong royong menjadi semangat utama dalam menjalankan aktivitas pertanian.
Lalu bagaimana kini? Cukup sedikit aktivitas pertanian saat ini yang dilakukan dengan gotong royong. Misalnya dalam penggarapan sawah, kita hampir tidak lagi menemukan aktivitas pertanian yang dilakukan dengan gotong royong.
Sebagian besar proses penggarapan sawah dilakukan secara sendiri-sendiri yang dianggap mandiri. Gotong royong tak lagi muncul dalam bentuk solidaritas lintas petani.
Yang Masih Tersisa
Penggarapan lahan persawahan yang di mulai pembajakan sawah, perbaikan pematang sawah dan penanaman padi hingga proses panen tak lagi dilakukan secara gotong. Para petani cenderung melakukan hal tersebut dengan melakukan pemberian upah pada pekerja, yang juga bekerja sebagai petani.
Dari sedikit gotong royong yang tersisa pada petani penggarap sawah, hanya pada perbaikan pematang sawah dan penanaman padi saja kita bisa menemukan proses pertanian tanpa upah.
Namun demikian, tak sedikit pula petani yang lebih memilih memberi upah pekerja pada proses penggarapan lahannya. Salah satu alasannya adalah efisiensi penggarapan sawah.
Perbaikan Pematang Sawah
Hal senada diungkapkan oleh salah satu petani di Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba, Asri. Dia menjelaskan bahwa petani kegiatan gotong royong dalam penggarapan sawah hanya pada proses perbaikan pematang sawah saja. Selebihnya menggunakan upah.
Disisi lain, lanjut dia, selain efisiensi penggarapan sawah, para petani juga cenderung enggan untuk melakukan aktivitas gotong royong dalam penggarapan sawah. Pasalnya, sebagian besar petani di wilayahnya cenderung berlomba untuk menggarap sawahnya.
“Kalau gotong royong penggarapan sawah di wilayah kami, yang tersisa hanya pada proses perbaikan pematang sawah sebelum penanaman padi. Selebihnya menggunakan upah atau di kerjakan sendiri,” ungkap dia.
